Jumat, 28 Desember 2012

A Dangerous Love (CInta yang Berbahaya)

Prolog
 Petugas Quint membuka bajunya dan menyeka muntahan di bibirnya dengan saputangan.Cahaya melintas di timur dan guntur bergemuruh sebuah ancaman untuk nantinya. Di kegelapan berikutnya, cahaya biru dan merah melintasi bayangannya di rumput yang basah. Saat ia berbalik, Lampu-lampu ambulan yang diam melambung melintasi bentangan panjang padang rumput antara jalan raya dan mobil yang hancur. Tidak perlu untuk terburu. Mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk para penghuni.

Malam masih hidup  dengan kedipan lampu dan kamera. Hujan masih turun pada tingkat yang stabil, tapi tidak seperti sebelumnya yang didorong oleh angin. Kereta api  berjongkok diam di trek dalam pose kucing, seolah-olah menunggu mangsa. Dibalik itu, enam belas mobil terjebak macet bersamaan sepanjang kembali ke jalan raya. Lampu-lampu mobil digerakkan mundur sejauh mata bisa melihat, menunggu seseorang dengan tidak sabar untuk mengarahkan mereka dari kemacetan. Seburuk kecelakaan itu, itu bisa saja lebih buruk. Kereta itu tidak keluar dari rel...dan dia tidak di dalam mobil. 

Petugas Lathum menemuinya setengah jalan ke arah mobil dan mengangkat alis abu-abunya yang lebat. "Aku akan mengambil sebuah kesimpulan kalau hal ini adalah baik korban pertamamu, atau kau tahu orang-orang ini." Nadanya menggantung antara sarkastik dan kesal. Reputasinya yang kasar pada para pemula baik diterima. Ini pasti telah berjalan sejak dulu, karena  orang-orang yang dilatihnya adalah beberapa petugas yang terbaik. 

Quint menundukkan kepalanya. "Aku tahu mereka."

Suara Lathum hilang beberapa tepi. "Aku minta maaf tentang itu, boy. Apa kau ingin penggantian?"

"Tidak" Quint menegakkan dan mengangkat dagunya.  "Aku bisa mengatasinya..sekarang"

Lathum berjalan disampingnya menuju ke mobil patroli mereka  dan mengambil sebuah tablet. "Berikan padaku beberapa informasi. Apa nama mereka dan dimana mereka tinggal. Apakah mereka mempunyai kerabat dekat?"

"Nama belakang mereka Anderson. Pengemudinya John-dia adalah sang ayah, dan nama sang ibu Marie."

Lathum menulis di pad nya, menegaskan selagi dia menulis. "Pengemudi John Anderson, penumpang sampingnya Marie Anderson?"

"Ya. Si anak perempuan Angela dan si anak laki-laki Nick...Nicholas."

"Berapa umur si anak perempuan ini?"

"Tiga belas, aku pikir.  Si anak laki-laki baru saja berumur enam tahun."

"Kerabat berikutnya?"

"Anak tertua mereka, Lisa."

 Tatapan biru pucat Lathum terangkat dari tablet mencari tatapan Quint. "Berapa umurnya?"

"Sembilan belas"

"Pacar?"

"Aku berkencan dengannya beberapa kali, tapi dia keluar dari ikatanku."

Lathum mengembalikan perhatiannya pada tabletnya dan mendengus. "Aku meragukan itu. Tidak jika kau menilai dari mobil dan pakaian mereka."

Quint tahu dia seharusnya mengakhiri gejolak itu dan pukulan  di lehernya. Dia baru saja mengakui suara dinginnya sebagai sangkalan memaksa jalan keluarnya. "Well Pak, Aku tidak menilai orang dari pakaian di punggung mereka dan mobil yang mereka kendarai."

Lathum melirik dengan tajam, ekspresinya tak terbaca. Untuk satu momen mengerikan yang panjang dia diam. Akhirnya dia mengangkat bahu. "Cukup adil, jadi mengapa kau pikir dia keluar dari ikatanmu?"

Quint dengan perlahan melepas nafasnya. "well, untuk pemula, Aku harus bersaing dengan setiap laki-laki di sekolah. Aku lulus dua tahun lebih dulu darinya dan tidak tetap berhubungan dengannya. Aku tidak istimewa. Tidak sepertinya." Itu sulit untuk menjelaskan bagaiamana kecantikannya berbeda dengan kebanyakan orang, tapi itu benar. Dia bisa saja menjadi seorang model. Bentuk lembut pada badannya yang tinggi ramping dan kaki-kaki panjangnya yang panjang menjadi pembicaraan di ruang ganti saat dia masih sma. Dia lebih muda dua tahun. Mata lebar yang polos dan bibir penuh itu mengingatkannya akan putri di dongeng. Bahkan cara dia menata rambutnya, kepang itu melilit atas kepalanya seperti mahkota dan ikal panjang bercahaya jatuh di sekitar bahu dan punggungnya-dia tidak hanya cantik. Dia sangat cantik. Sekarang dia telah dewasa menjadi wanita yang bahkan lebih cantik. Suaranya lembut dan penuh dengan musik.

Lathum memecahkan lamunannya. "Tapi Mertz cukup baik untuknya?kenapa, karena dia adalah anak seorang dokter terkemuka?Namun dia ditangkap minggu lalu karena menjual narkoba pada anak-anak seperti Nicholas kecil sebelah sana?" Jempolnya tersentak kembali mengakui Nick untuk yang pertama kali. "Aku pikir kau tidak menilai orang dari keuangan mereka."

Quint merasakan aliran kehangatan ke mukanya. "Dia tidak tahu apapun tentang apa yang dia lakukan."

Lathum mengabaikan subjek dengan mengangkat bahu. "Ada ide dimana dia malam ini?"

"Mungkin di rumah. Aku dengar dia cukup dipermalukan ketika dia tahu."

"Well,dia telah mendapat sesuatu untuk melepaskan pikirannya sekarang." Suaranya tegas. "Dia seperti apa? Akankah dia akan histeris ketika kau memberitahunya?"

"Aku?" Ide untuk memberitahunya lagi cukup mengganggu, tapi untuk memberitahunya sesuatu seperti ini? "Aku tidak tahu dia begitu baik."

Lathum menatapanya dengan buruk terselubung kesenangan."Bagus, itu seharusnya membuat lebih mudah." Dia mulai berbalik dan kemudian berhenti, eskpresinya tenang."Lebih baik singgah dan mendapatkan Howard Spencer. Bawa dia sepanjang dalam kasus ini. Dari apa yang telah aku dengar, dia dan Miss Anderson lebih dari teman."

Spencer dan Lisa? Sejak kapan? Quint mengangguk dan balik ke mobil patroli. Howard adalah saudara teman baiknya,Connie. Menurut Lisa, mereka adalah hal yang paling dekat pada keluarga bahwa dia memiliki selain orang tua dan saudaranya. Spencer mendekati sepuluh tahun lebih tua daripada dia, tapi mungkin dia suka laki-laki yang lebih tua. Beberapa wanita begitu. Dia adalah seorang pengacara dengan reputasi yang sedang tumbuh dan dia bekerja di firma hukumnya musim panas lalu.

Dia meraih pintu,  ragu memutar isi perutnya. Satu hal tentang Lathum, dia memilik cara yang luar biasa menjadi benar tentang orang-orang. Jika Lisa terlibat dengan baik Spencer dan mertz, mungkin dia adalah informan bagi Spencer. Di sisi lain, mungkin Mertz pikir dian akan membuat umpan yang besar. Dia tidak akan mempunyai masalah mengganggu seorang pria, itu pasti. Tentu saja, selalu ada kemungkinan kalau dia telah muncul dengan ide menggangu Spencer, tapi dia menepukan itu sulit untuk dipercaya. Itu benar-benar keluar dari karakternya...atau itu benar? Seseorang bisa berubah banyak dalam beberapa tahun, terutama ketika mereka muda. Mungkin Lathum mempunyai sebuah titik.

Dia mencengkram pegangan pintu yang basah, bunyi klik pegangan membawa pikirannya kembali ke masa kini. Dia berbalik ke Lathum. "Sir, jika aku membawa mobilnya, bagaimana anda.."

Lathum melambaikan tangan untuk penolakan, pikirannya sudah berakar pada proyek lain. "Aku akan mengandarai ambulan yang terakhir. Sekarang juga kita harus melakukan sesuatu tentang lalu lintas ini." Dia pergi dengan clipboard di tangannya, membentak beberapa perintah pada petugas yang lain.

Quint jatuh ke tempat duduk dan menyalakan mesin. Dia merasa sakit perut lagi. Bukan kecemburuan yang mengganggunya. Karena ide menjadi tertipu. Tapi kemudian, semua yang telah dia lihat dalam beberapa minggu telah jelas membakar lubang dalam keyakinannya tentang mengetahui orang-orang.Berada di sekitar Lathum telah membuka matanya terhadap jumlah orang yang menipu dan ditipu.

 Dia memutar mobil ke arah rumah Spencer. Sekarang dia ingin tahu kalau dia telah memilih pekerjaan yang tepat. Dia ingin percaya pada kebaikan dan bahagia selamanya, tapi kepolosan itu tidak akan pernah bisa diambil.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar